Tahan dulu rindumu…
- Roeang Baca

- Apr 5, 2020
- 3 min read
Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa. I Pet 4:7
Perhatian seluruh dunia saat ini sedang terfokus pada satu masalah yaitu virus corona atau yang biasa disebut Covid 19. Semua orang tanpa mengenal batasan negara maupun agama dan usia bisa saja terjangkit virus ini. Pertanyaan yang sama yang muncul di benak kita adalah: sampai kapan bencana ini akan berlalu? Tanpa bermaksud menganggap remeh, virus-virus lainpun sebenarnya sudah pernah “mampir” di bumi kita tercinta ini. Sebut saja SARS yang menjadi epidemi pada 2003 dan MERS yang melanda pada 2012. Saudaraku, memang virus ini akan berlalu. Namun selagi kita masih hidup dalam situasi seperti ini, saya mengajak kita untuk merenungkan beberapa hal:
1. Sudah mulai rindu beribadah seperti biasa?
Ibadah Minggu sudah jadi hal yang biasa. Dengan situasi yang berubah secepat ini, siapa yang sangka bahwa ibadah tiga minggu lalu adalah ibadah terakhir kita sampai saat ini? (dan belum tahu kapan lagi kita bisa beribadah). Mengenang masa duduk-duduk bersama jemaat lain atau latihan menyanyi? Bahkan saudara-saudara Muslimpun tidak lagi bersholat Jum’at di masjid. Sesuatu yang tadinya biasa saja akhirnya menjadi sesuatu yang kita rindukan. Jika dulu mungkin kita susah bangun di Minggu pagi, maka tiga minggu belakangan ini setiap kali terbangun kita akan merasakan vibe yang berbeda: “Wah kapan nih kita bisa ibadah di gereja lagi?” Maka dari itu mari kita belajar live every moment. Hidupilah setiap hal yang bisa kita lakukan sekarang. Siapa yang tahu jika ternyata besok kita sudah tidak bisa melakukannya lagi. Jika kita diberikan kesempatan untuk beribadah lagi, maka lakukanlah kembali dengan penuh rasa syukur dan sukacita.
2. Rindu pulang kampung tapi tidak bisa?
Bagi kita yang merantau, tentu merasakan bisa pulang kampung adalah hal yang luar biasa. Namun kadang kesibukan memang membuat kita terikat. Kita bahkan jarang menanyakan kabar keluarga di kampung halaman. Ketika sebenarnya bisa pulang, kita memilih tetap bekerja. Ada target yang harus dicapai. Ada cicilan yang harus dibayar. Keluarga menjadi prioritas ke sekian. Bagaimana jika kondisinya seperti sekarang? Pulang kampung dapat memperburuk situasi karena kita bisa jadi justru membawa “oleh-oleh” virus bagi keluarga kita. Jika kita diberikan kesempatan untuk melewati masa-masa sulit ini, jangan ulang kesalahan yang sama. Pulanglah. Peluklah keluarga kita selagi bisa.
3. Membayangkan indahnya jalan-jalan ke pantai / mall seperti dulu?
Bagi beberapa orang mengikuti gerakan #diamdirumahaja memang susahnya minta ampun. Perlu usaha ekstra untuk menahan kaki ini melangkah keluar dari rumah. Indahnya status jalan-jalan dan nongkrong bersama teman tidak lagi menghiasi dinding media sosial kita. Saudaraku, seberapa sulitpun kita menahan diri untuk keluar dari rumah, mari kita pikirkan hal yang jauh lebih penting dari ego kita yaitu keselamatan orang lain, termasuk keluarga kita sendiri. Memang tidak setiap orang bisa work from home. Tenaga medis dan pekerja harian harus berbesar hati berjibaku dengan risiko tertular. Dukunglah aksi mereka dengan seminimal mungkin keluar rumah jika tidak terlalu mendesak. Pesan ini terdengar klise. Bahkan mobil polisi berpatroli hampir tiap pagi untuk mendengungkannya kepada masyarakat. Ingat. Tahan dulu rindumu bukan hanya untuk dirimu tapi juga sesamamu!
Saudaraku, ada saatnya kita akan kembali bertemu tatap muka dengan para kolega, dan berjalan-jalan menikmati alam ciptaan-Nya bersama keluarga. Bukankah waktu “puasa” ini justru membuat kita lebih menghargai makna kedekatan dengan sesama? (dan dengan Tuhan tentunya). Mari, duduklah dengan tenang. Nikmatilah riuh kesunyian itu! Tahan dulu rindumu. Tenanglah dan doakanlah bangsamu supaya ini semua cepat berlalu dan kita semua kembali bertemu.
Novia Putri
Soli Deo Gloria.



Comments