top of page

Pembawa damai yang palsu

Tulisan ini saya buat berdasarkan inspirasi dari sebuah buku yang belakangan saya baca, yaitu Spiritualitas yang sehat secara emosi karya Peter Scazero. Salah satu bab di dalam buku ini menyisipkan pembahasan mengenai pembawa damai palsu. Mereka adalah orang-orang yang memahami makna kata “damai” secara sempit sebagai ketidakinginan seseorang untuk berdebat tentang suatu hal yang jelas-jelas salah. Atau dengan kalimat lain, si pembawa damai palsu ini adalah mereka yang menghindari konflik demi tidak merusak suasana tenang yang telah tercipta sekalipun sesungguhnya ada yang salah di tengah-tengah komunitasnya. Anda mungkin akan terkejut ketika saya mengatakan bahwa setiap kita pasti pernah menjadi seorang pembawa damai yang palsu. Sebelum menjadi terlalu kaget, ada baiknya anda simak baik-baik penjelasan dan contoh-contoh berikut ini:


Contoh 1: Bapak A selalu mendiamkan tatkala atasannya tidak pernah menghargai hasil kerjanya di kantor. Atasannya selalu mengabaikannya dan semua orang tahu itu. Bapak A hanya tidak ingin berdebat dan merusak suasana walau ia tahu sebenarnya atasannya banyak melakukan kesalahan. Ia pembawa damai yang palsu.

Contoh 2: Si E mengasihi orangtuanya. Namun orangtuanya terus menerus mengkritisi cara E mendidik anaknya. Si E selalu diam dan tak ingin membicarakannya sekalipun banyak hari mereka lewati dalam ketegangan karena konflik tersebut. Si E tidak ingin menyakiti perasaan orangtuanya. Ia adalah pembawa damai yang palsu.

Bagaimana sejauh ini? Cerita-cerita di atas tentu tidak asing dalam hidup kita sehari-hari. Hanya karena kita ingin berada dalam situasi damai (meskipun kedamaian tersebut palsu), kita memilih untuk diam dan menghindari konflik karena kita pikir Yesus pun adalah pembawa damai. Entah mengapa ilmu “tidak ingin merusak suasana” ini telah berkembang sedemikian rupa bahkan dalam kehidupan orang Kristen.



1. Membawa damai tidak sama dengan berkompromi dengan dosa

Yesus sang pembawa damai sejati rupanya bukan seorang yang segan untuk “merusak suasana” di sekitar-Nya. Ketika diperhadapkan pada suatu hal yang mengusik hati, Ia tak lantas tinggal diam dan melanjutkan perjalanan. Ia melakukannya supaya damai yang sejati itu muncul. Bukan kedamaian palsu yang disukai orang. Contoh paling nyata terjadi dalam Luk 19:45-48 ketika Yesus mengusir orang-orang yang berdagang di Bait Allah. Yesus tahu ada yang salah di situ dan Ia menunjukkan kesalahan itu. Berapa banyak di antara kita yang hanya karena alasan “sudahlah mending kita damai-damai saja” lantas membiarkan firman Tuhan dipermainkan. Kebenaran diselewengkan hanya karena kita segan menyampaikannya. Dalam pikiran kita lebih baik kita menikmati kedamaian palsu itu daripada berjibaku dengan konflik yang sesungguhnya dapat menuntun kita menuju damai yang sejati. Ingat ! Kedamaian sejati tidak pernah dihasilkan melalui cara seolah-oleh melihat kesalahan sebagai kebenaran. Tidak ada kedamaian sejati di dalam kepura-puraan. Perhatikan pula bahwa kita perlu bijaksana dalam menyampaikan kebenaran yang kita ketahui agar lawan bicara kita dapat memahami apa yang kita ungkapkan. Meskipun demikian, jangan pernah kecewa ketika kita sudah menyampaikan kebenaran dan tertolak.

2. Membawa damai tidak sama dengan menekan emosi

Menekan emosi bukanlah sesuatu yang benar. Bahkan jika ingin bukti lebih lanjut, hal tersebut juga tidaklah Alkitabiah. Selain dalam kisah Alkitab di atas, beberapa bagian Alkitab yang lain juga menunjukkan bahwa Yesuspun memiliki emosi yang Dia lepaskan. Ia menangis ketika berada di tempat Lazarus yang telah meninggal (Yoh 11:35). Ia sedih dan takut ketika menit-menit menjelang penangkapan-Nya (Mat 26:38). Alih-alih menekan emosinya dan menggantinya dengan sesuatu yang terlihat lebih luar biasa seperti misalnya tidak gentar sedikitpun menjelang penangkapan-Nya, Ia justru menampakkan sebaliknya. Alih-alih menyepelekan kesedihan Marta dan Maria, Yesus justru turut berkabung dalam kesedihan mereka. Mengapa? Karena Ia sama dengan kita kecuali dalam hal dosa. Ia juga memiliki emosi marah, takut, dan sedih. Dan Yesus adalah contoh yang sempurna dalam hal kedewasaan emosi.

Menjadi pembawa damai sejati adalah keahlian yang harus kita pelajari seumur hidup. Nikmatilah relasi kita dengan orang lain dalam terang kasih Kristus. Mulai hari ini kita dapat menyisipkan sepotong doa ini sebelum tidur:

Tuhan tolonglah saya untuk menjadi seorang yang dewasa secara emosi dan menjadi pembawa damai yang sejati di manapun saya berada.


Novia Putri

Soli Deo Gloria.

Comments


Get in Touch

Thanks for submitting!

  • White Facebook Icon
  • White Instagram Icon
  • White Yelp Icon

mari berbagi pandangan

bottom of page