top of page

Social distancing dan maknanya bagi kita

Updated: Apr 5, 2020

Frasa dalam bahasa inggris ini belakangan akrab di telinga kita. Social distancing jika kita artikan secara harafiah memiliki arti jarak sosial. Kita diminta untuk menjaga jarak dengan sesama kita. Secara fisik tentu saja. Dengan demikian budaya seperti bersalaman (bahkan ada orang yang terbiasa melakukan cium pipi atau hidung), dan berpelukan dalam nuansa kekeluargaan pun sedapat-dapatnya harus dihilangkan untuk saat ini. Sebagian orang mengalami kesulitan dalam menerapkannya. Bagaimana tidak. Kebiasaan tersebut telah mandarah daging, sehingga ketika harus dihilangkan (walaupun untuk sementara) akan menimbulkan kecanggungan. Bagaimana pengalaman kita dalam hal ini?


Saya melakukan percobaan untuk tidak bersalaman pada Minggu pertama hal ini mulai disosialisasikan oleh pemerintah. Selain karena termasuk dalam golongan orang yang sedikit-sedikit menyentuh wajah (apakah kita juga demikian?), saya juga ingin melihat respon jemaat perihal ini. Pada awal ibadah Minggu pagi saya mencoba untuk tidak bersalaman. Seperti biasa saya berdiri di depan pintu gereja untuk menyambut jemaat yang berdatangan. Lantas, apa yang terjadi? Beberapa orang “memaksa” untuk tetap bersalaman (tentunya bukan memaksa dalam arti yang buruk ya). Saya memahami hal ini karena sekali lagi hal ini adalah kebiasaan yang dilakukan dalam bergereja. Pada akhirnya saya memutuskan untuk bersalaman dengan cara yang biasanya pada saat selesai ibadah. Tentunya dengan terus mengingatkan diri untuk tidak menyentuh wajah dan mencuci tangan sebersih mungkin setelahnya.


Meskipun social distancing bukan hanya bicara mengenai cara bersalaman namun juga mengenai menjaga jarak satu sama lain dan menghindari berada di kerumuman, tidak ada salahnya kita meninjau hal ini dengan lebih baik. Dari social experiment kecil tadi dan beberapa hal yang saya amati terjadi di masyarakat belakangan ini, saya ingin berbagi beberapa hal yang kiranya bisa menjadi berkat bagi kita di dalam masa-masa sulit menghadapi covid-19 saat ini:


1. It’s just physical distancing


Perlu digarisbawahi di sini bahwa yang dibatasi adalah kontak secara fisik. Kita memang tidak bertemu dengan saudara-saudara kita dengan bertatap muka, tapi dengan kemajuan teknologi, kini kita bisa tetap bisa “bertatap muka” dengan mereka atau bahkan sekedar mendengar suara mereka. Berapa banyak di antara kita yang telah lama berjauhan dengan keluarga kita di kampung halaman? Hai, manfaatkanlah waktu-waktu ini untuk berkontak dengan mereka. Bukankah lebih indah bertukar kabar daripada menghabiskan waktu

bermain media sosial?


2. Melakukan hobi


Kesibukan seringkali membuat kita tidak memiliki waktu untuk melakukan hobi kita. Berkebun kah? Mengajak jalan-jalan binatang peliharaan mungkin? Membaca kah? Lakukanlah kembali hobi-hobi kita yang lama kita tinggalkan. Tulisan ini sendiri muncul di masa-masa ini sebagai wujud penyaluran hobi yang telah lama penulis tinggalkan.


3. Berbagi dengan sesama


Barang-barang kebutuhan pokok yang biasanya berlimpah di toko-toko kini mulai langka? Inilah efek dari panic buying. Warga yang resah karena berita virus ini segera membeli kebutuhan pokok dalam jumlah besar. Celakanya hal ini tidak dilakukan oleh satu dua orang saja tetapi banyak. Ingatlah berbagi kawan. Coba tengoklah sesamamu yang sebenarnya membutuhkan masker tapi kehabisan stok di mana-mana sementara stok maskermu menumpuk di rumah.


4. Berdiam mendengar suara-Nya


Bukan hanya hobi yang kita tinggalkan manakala kita terjebak dalam kesibukan setiap hari. Kapan terakhir kali kita duduk diam mendengar suara Tuhan? Mengoreksi hidup kita? Merenungkan berapa banyak kita telah menyakiti hati sesama kita dan kembali memohon Kristus menolong kita? Jika kita sudah tak ingat jawabannya, jangan tunda lagi. Berlututlah sekarang di hadapan-Nya! Mulailah waktu-waktu teduh bersama dengan Dia.

Novia Putri

Soli Deo Gloria

Comments


Get in Touch

Thanks for submitting!

  • White Facebook Icon
  • White Instagram Icon
  • White Yelp Icon

mari berbagi pandangan

bottom of page