Ketika ibadahpun harus online…
- Roeang Baca

- Apr 14, 2020
- 2 min read
Beberapa minggu belakangan ini kita menghadapi suatu kondisi yang mengharuskan kita ibadah online. Ibadah online yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah satu-satunya cara yang dipakai gereja untuk memfasilitasi ibadah via live streaming Youtube atau Facebook dan Instagram, dalam menghadapi masalah virus corona. Kondisi ini jelas tidak ideal, namun harus dijalani. Bukan hanya oleh kita di Indonesia, tetapi juga oleh gereja-gereja di seluruh dunia. Lantas sejauh ini, pengalaman apa saja yang sudah kita dapatkan melalui ibadah online? Apakah kita merasa senyaman seperti biasanya? Tentu saja ada yang kurang! Kita terbiasa beribadah dengan cara datang ke gereja dan bertemu dengan orang lain. Bersalaman, duduk sebelah-menyebelah, melihat slide satu demi satu sambil menyimak khotbah. Sekali lagi, tentu saja ada yang kurang. Bahkan, jangan sampai kita merasa nyaman beribadah online dan tidak ingin lagi kembali ke cara lama. Cukup klik saja dan tunggu sampai ibadah dimulai. Kita bisa menyembah Allah. Semua ada dalam kendali jempol kita. Lalu bagaimana sebaiknya kita umat Kristen menyikapi ibadah online ini? Mari kita simak beberapa hal berikut ini:
1. KARYA TUHAN TAK DAPAT DIBATASI MEDIA APAPUN
Aminkan hal ini dulu saudara! 😊 Baik kita beribadah seperti biasa maupun online seperti belakangan ini, saya sangat yakin Tuhan tetap bisa berkarya dalam hati kita. Ingatlah selalu bahwa kuasa Allah tidak dapat dibatasi oleh apapun. Ketika tempo hari saya mengikuti ibadah online dari sebuah gereja di Surabaya, saya merasakan Tuhan sungguh-sungguh berbicara (tepatnya menegur) saya melalui firman-Nya. Kuasa-Nya bekerja merengkuh saya yang lemah dan memberikan kekuatan baru. Dan ini saya alami ketika saya ibadah online.
2. CARA YANG SAMA SEBAGAIMANA BERIBADAH DI GEDUNG GEREJA
Tentu sekalipun kita beribadah online, kita diharapkan tetap dapat mengikuti ibadah dengan khidmat sebagaimana biasanya di dalam gedung gereja. Jangan mengikuti puji-pujian sambil menjemur baju misalnya. Atau malah mendengar khotbah sambal memasak di dapur. Jangan. Posisikanlah diri kita sebagaimana biasanya kita beribadah di hari Minggu. Tuhan tetap sama. Hadirat Tuhan tetap senyata ketika ibadah seperti biasanya. Hargailah waktu-waktu tersebut dengan tetap khidmat di hadapan-Nya.
3. MEMIKIRKAN TEKNIK YANG MENJANGKAU SELURUH JEMAAT
Sekalipun ibadah online banyak dipakai oleh gereja-gereja, menurut penulis gereja tetap harus memikirkan cara-cara yang efektif untuk menjangkau seluruh jemaatnya. Dalam setiap gereja tentunya memiliki berbagai lapisan jemaat. Ada generasi muda yang melek teknologi, namun ada juga generasi di atasnya yang masih bingung mengoperasikan smart phone di genggaman. Berdasarkan apa yang penulis amati, sesungguhnya batasan melek dan tidak melek teknologi ini ini tidak selamanya berdasarkan kriteria usia tetapi tingkat literasi digital. Bisa saja masih tergolong usia muda namun sudah kebingungan klik sana sini. Namun faktor usia memang yang paling utama dalam menentukan melek dan tidaknya seseorang dengan teknologi yang ada. Berkaitan dengan hal tersebut, maka gereja perlu melihat baik-baik. Apakah ibadah online yang disediakan sudah dapat dinikmati seluruh lapisan jemaatnya? Jika belum, apakah kendala jemaat? Gagap teknologi kah? Jika ya maka perlu memberikan langkah-langkah yang jelas. Faktor-faktor lainpun perlu diperhatikan seperti misalnya kesulitan ekonomi dalam mengakses internet. Ingat, tidak semua orang punya akses lebih ke dunia maya. Apalagi dalam kondisi krisis seperti ini. Meski mungkin jumlah mereka yang kesulitan mengakses ibadah online ini tidak banyak dibanding jumlah keseluruhan jemaat, namun mereka tetap perlu diperhatikan. Sebab harga satu jiwa sungguh bernilai di hadapan-Nya.
Novia Putri
Soli Deo Gloria.



Comments